Rumah yang terletak di sebelah masjid itu nampak hening dan tenteram. Hanya lampu putih yang terlihat terang dan beberapa lukisan terlihat di beranda rumahnya ketika tim LPM(lembaga pers mahasiswa) SITUS fakultas Ilmu Budaya universitas Airlangga mengunjunginya beberapa saat yang lalu.
Malam itu(22/12, 2008) tim LPM SITUS mengadakan silaturahim ke kediaman budayawan D. Zawawi Imron di daerah batang-batang, kabupaten Sumenep, Madura yang merupakan program kunjungan LPM SITUS ke Sumenep dalam kaitannya dengan peliputan untuk majalah SITUS. Tim kami dengan sabar menunggu beliau yang kebetulan pada saat itu sedang menunaikan shalat Isya’ ketika kami baru tiba disana. Sambil menunggu Zawawi Imron, kami ditemani oleh hembusan angin sejuk dan lengkingan hewan-hewan malam yang saling bersahutan di malam hari. Tak berapa lama kemudian, Zawawi Imron keluar menemui kami dengan ramah sambil mengenakan baju muslim, sarung, dan songkok. Dengan gayanya yang cenderung sederhana, beliau mempersilahkan kami untuk duduk melingkar di beranda rumahnya. Lalu kamipun memulai percakapan ringan dengan beliau seputar local culture.
Umurnya yang sudah beranjak senja tidak menghalanginya untuk tetap bersemangat bicara tentang sastra dan budaya. Dan bahkan, kami pun terlarut dalam perbincangan santai pada malam yang bertepatan dengan hari ibu tersebut. Sehubungan dengan akan terbitnya majalah SITUS pada bulan Februari, tim majalah memutuskan untuk mengangkat tema local culture. Dan majalah akan memasukkan D. Zawawi Imron ke dalam rubrik tatap muka. Percakapan kamipun dimulai dengan makna lokalitas itu sendiri yang selama ini banyak mewarnai budaya kita.
Dalam kaitannya dengan kesusastraan di Indonesia, lokalitas sudah menjadi tema yang diangkat oleh beberapa sastrawan kita dalam karyanya. Seperti Pramoedya Ananta Toer yang mengangkat budaya Jawa, lalu ada Umar Kayam dalam novel Para Priyayi, dan Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Kekentalan warna lokal sangat terlihat jelas dalam karya-karya sastra tersebut. Meskipun begitu, Ia mengatakan bahwa kadangkala terjadi suatu transkultural yang dapat dijumpai pada beberapa karya puisi. Misalnya Chairil Anwar dalam Betta Pattiradjawane dan karya Zawawi Imron sendri dalam antologi puisinya yang berjudul “berlayar di pamor badik” yang memperlihatkan kekagumannya pada pulau sulawesi. Lokalitas di setiap daerah seharusnya bukan menjadi suatu pertentangan atau bahkan fanatisme daerah. Tetapi, justru sebaliknya menjadi hal yang dapat didiskusikan dengan baik. “fanatisme terjadi seperti Hittler dengan ras Aria-nya di Jerman, tapi di zaman sekarang sudah ada dialog antar budaya…” ujarnya sambil sesekali melepas songkok yang dipakainya. Jadi tinggal persoalan harga-menghargai itu yang ada atau tidak. Karena, sikap toleransi itu mutlak diperlukan.
Di akhir perbincangan, tim majalah diajak mengunjungi ruang baca dan juga tempat menyimpan lukisan karyanya di belakang rumah yang terkesan sederhana. Memang benar filosofi padi, makin tua makin merunduk, yang terlihat dalam nasehatnya kepada kami ketika akan pamit pulang,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar